WELCOME TO MY BLOG
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Sunday, September 29, 2013

Baju Bodo Dari Gowa


Assalamu Alaikum sahabat APG, senang bisa berbagi kembali informasi kepada para teman-teman. untuk info kali ini saya ingin berbagi pengetahuan mengenai Baju Bodo yang tidak lain merupakan pakaian adat orang Gowa.


sebenarnya Kata bodo pada kalimat "Baju Bodo" yaitu tanpa lengan, jadi Baju Bodo kerupakan Pakaian Tanpa lengan, itu terlihat dari bentuknya.
menurut sejarah Baju Bodo merupakan pakaian adat yang sering dipergunakan pada acara-acara penting suku asli Makassar. untuk pemakaian baju bodo juga tidak sembarang, karena setiap warna yang ada itu hanya cocok untuk orang dengan usia tertentu seperti:

warna jingga, dipakai oleh perempuan umur 10 tahun,
warna merah darah, digunakan oleh perempuan uumur 10-14 tahun,
khusus untuk yang berusia 14 tahun sampai 17 tahun menggunakan baju bodo lapis dua,
adapun warna putih dipergunakan oleh inang atau dukun.
warna hijau untuk putri bangsawan,
warna ungu untuk para perempuan yang sudah menikah namun tidak ada lagi suaminya (janda),

tapi sekarang semua itu sudah tidak lagi menjadi perhatian, semua warna sudah tidak sesuai pada tempatnya..!!!

Friday, September 20, 2013

Islam dan Kerajaan Gowa-Tallo

Masyarakat Makassar terkenal bahkan ke dunia barat atas keberaniaannya berlayar, dalam sebuah buku islamisasi kerjaa Gowa, Prof. DR. Ahmad M. Swang, M.A ( 2005; 72) Tome Pires dalam perjalanannya dari Malaka ke laut Jawa pada tahun 1513telah menemukan orang-orang makassar sebagai pelaut ulung. Kerajaan Gowa sangat jauh sekali perbedaanya dari kerajaan yang ada di Jawa dan Sumatra, Sulawesi dalam menerima ajaran islam sangatlah lambat.


Penyebaran Islam yang dilakukan oleh para pedagang dimungkinkan karena didalam ajaran Islam tidak dibedakan antara tugas keagamaan seorang muslim, sebagai penyebar nilai-nilai kebenaran, dan profesinya sebagai pedagang. Setiap Muslim, apapun profesinya dituntut untuk menyampaikan ajaran Islam sekalipun satu ayat.
Kalua melihat masuknya islam ke Makassar terutama terbentuknya Kerajaan Gowa-Tallo memang bisa dilihat sedikit terlambat dari wilayah lain seperti Jawa dan Sumatra dll, sebab Kerajaan Gowa baru dikenal sebagai kerajaan yang berpengaruh dan menjadi kerajaan dagang pada akhir abad XVI atau awal abad XVII. Dalam kurun waktu tersebut para pedagang muslim dari berbagai daerah Nusantara dan para pedagang asing dari Eropa mulai ramai mendatangi daerah ini.
Prof. DR. Ahmad M. Swang, M.A ( 2005; 80) menyebutkan bahwa menurut teori yang dikembangkan oleh Noorduyn, proses islamisasi di Sulawesi Selatan tidak jauh berbeda dengan daerah-­daerah lainnya di Indonesia, yaitu melalui tiga tahap: pertamakedatangan Islam, kedua penerimaan Islam dan ketiga penyebarannya lebih lanjut.
Pendapat yang senada dikemukakan oleh H.J. de Graaf. Namun, ia lebih menekankan pada pelaku islamisasi di Asia Tenggara yang analisisnya didasarkan pada literatur Melayu. Graaf berpendapat:
bahwa Islam didakwakan di Asia Tenggara melalui tiga metode yaitu: oleh para pedagang muslim dalam proses perdagangan yang damai, oleh para dai dan orang suci (wali) yang datang dari India atau Arab yang sengaja bertujuan mengislamkan orang-orang kafir dan meningkatkan pengetahuan mereka yang telah beriman, dan terakhir dengan kekerasan dan memaklumkan perang terhadap negara-negara penyembah berhala.
 
Kedatangan Islam di Makassar yang dimaksudkan oleh Noorduyn dalam teorinya di atas adalah ketika pertama kali para pedagang Melayu muslim mendatangi daerah ini. Kata Melayu yang dimaksud dalam pengertian orang Makassar masa itu, tidak hanya terbatas pada wilayah daerah Riau dan Semenanjung Malaka, seperti yang diartikan sekarang, tetapi juga meliputi seluruh Pulau Sumatra,” sehingga ketika Datuk ri Bandang yang datang dari Koto Tangah Minangkabau di Makassar sebagai mubalig Islam, dia disebut sebagai orang Melayu.
Sekalipun para pedagang Muslim sudah berada di Sulawesi Selatan sejak akhir abad XV, tidak diperoleh

Saturday, May 18, 2013

Benteng Somba Opu (saksi sejarah kegigihan rakyat kerajaan Gowa)


 


Benten Somba Opu merupakan benteng terkuat yang merupakan saksi sejarah kegigihan Sultan Hasanuddin dan rakyat Gowa dalam mempertahankan kedaulatan daerahnya.

Benten Somba Opu adalah bangunan berupa tembok besar yang dibangun mengelilingi kompleks kerajaan Gowa. Letaknya di jalan Daeng Tata, Kelurahan Somba Opu, Kecamatan Tamalate, yaitu disebelah Selatan Makassar dan jaraknya sekitar 7 kilometer dari pusat kota.

Pada abad XV, Raja Gowa IX, Daeng Marante Tumapa'risi Kallonna, membangun Benten Somba Opu dikemudian hari sebagai pusat pemerintahan, perniagaan dan pelayaran Kerajaan Gowa hingga masa berkuasanya raja Gowa XVI, I Mallongbassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangappe yang bergelar Sultan Hasanuddin.

Uniknya, saat itu benteng terbuat dari tanah liat dan putih telur sebagai perekat pengganti semen, Selanjutnya pada masa pemerintahan I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiunga "Tunipallangga Ulaweng" raja Gowa X, benteng diperkuat dengan Bastion (Benteng Pertahanan) dari bata merah dan dipersenjatai dengan meriam.

Tuesday, May 14, 2013

Syekh Yusuf Tuanta Salamaka Battu Ri Gowa



Selamat malam sahabat CES semoga kalian tidak bosan-bosan berkungjung ke blog sederhana ini, saya akan selalu memperbaharui informasi yang anda butuhkan. Kali ini saya akan membagi sejarah/asal usul beliau yakni Toanta Salamaka atau lebih dikenal dgn nama Syekh Yusuf, berikut artikelnya. Tabe . . .

Syeikh Yusuf Makasar pembela dan penjunjung kebenaran - Syahdan, di Negeri Tallo, pada 13 Juli 1626 M atau bertepatan 8 Syawal 1036 H, muncul dari langit cahaya terang benderang menyinari negeri itu hingga Negeri Gowa. Maka, gemparlah masyarakat Gowa melihat cahaya itu. Mereka pun berangkat ke Tallo menceritakan serta mencari tahu fenomena luar biasa yang terlihat di Gowa. Namun orang Tallo tak tahu apa-apa. Yang mereka tahu, di negerinya telah lahir seorang anak bernama Yusuf. Kisah yang tertoreh dalam lontara Riwayakna Tuanta Salamaka ri Gowa (RTSG) itu menggambarkan kelahiran seorang ulama besar yang juga termasyhur sebagai sufi dan pejuang bernama Asy-Syaikh al-haj Yusuf Abu al-Mahasin Hidayatullah Taj Al-Khalwati al-Makasari atau Syekh Yusuf. Syekh Yusuf, menurut Abu Hamid dalam bukunya Syekh Yusuf: Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang lahir dalam masyarakat yang kompleks dan penuh dinamika. Saat itu, peperangan tengah berkecamuk di antara kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan dan terjadi persaingan melawan kompeni Belanda yang tengah sibuk berebut jalur perdagangan. Suasana keagamaan juga berada dalam masa transisi, sehingga kepercayaan lama dan Islam masih bercampur-baur.

Asal-usul ulama besar itu memang tak dapat dipastikan kebenarannya, karena bersumber dari cerita dan legenda. Menurut lontarak RTSG versi Gowa, ibu Syekh Yusuf bernama Aminah puteri Gallarang Moncongloe dan ayahnya seorang tua yang tak diketahui asal kedatangannya. Orang tua itu dikenal sebagai orang suci yang konon mempunyai banyak keramat. Buya Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam Jilid IV meyebutkan ayah Syekh Yusuf bernama Abdullah.

comment

kirim saran anda di bawah ini

Powered by 123ContactForm | Report abuse